Tampilkan postingan dengan label flashfic. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label flashfic. Tampilkan semua postingan

Selasa, Juli 28, 2015

Mengantar Badai




"Posisi lu masih terbuka?" tanya Evelyn kepada Rosa yang terpaku bengong menatap monitor layar datar di mejanya.

Rosa menghela nafas panjang.

"He eh, say. Masih stuck, nih. Kamu?"

"Gue kan day trader. Mana kuat gue nunggu lama-lama?" sahut Evelyn sambil duduk di meja Rosa. Rok mini merahnya tersingkap, kontras dengan warna pahanya yang putih mulus. Kalau lah ini peringatan hari kemerdekaan, mungkin akan ada psikopat yang berpikir untuk menggantung Evelyn di puncak tiang bendera.

Pembicaraan mereka terputus sejenak dengan kehadiran Malik, office boy perusahaan trading tempat mereka bekerja. Malik meletakkan segelas teh manis di meja Rosa.

"Kamu tahu apa doaku selama sebulan ini? Hokkaido diterjang badai besar. Biar aku terlepas dari dua puluh lima lot kacang merah sialan ini! Hi hi hi...." kikik Rosa yang disambut ledakan tawa Evelyn.

"Lu juga edan. Semua duit tabungan lu sendiri ditaruh dalam satu keranjang...." tawa Evelyn berubah menjadi nada simpati.

 "Iya, nih, nggak tau mengapa waktu itu aku nekad begitu.... Kalau mendadak jadi bear market, aku bakal kena MC, kere abis. Bisa-bisa mati berdiri..." keluh Rosa. Ia menoleh.

"Eh....Malik sayang, tolong bilang bu Parti Warteg kalau kasbon punyaku minggu depan baru bisa ku bayar, ya say?" pinta Rosa kepada Malik yang baru mau beranjak pergi setelah membereskan gelas-gelas minum yang kosong.

"Siap, mbak...."

"Kok mbak, siiih? Sayang, gitu lho!" goda Rosa yang membuat wajah Malik merah padam semerah rok mini Evelyn.

Tanpa menjawab Malik bergegas ke luar trading floor menuju pantry yang merupakan wilayah kekuasaannya.

"Sering-sering lu sayang-sayangin entar dia ge-er, beib!"

Rosa cuma tersenyum.

"Lu jadi berangkat entar malam?" Evelyn mengganti topik pembicaraan.

"Jadi, lah! Runi bisa membunuhku kalau aku batal hadir di pernikahannya!" kata Rosa membayangkan betapa cerewet kakak perempuannya satu-satunya yang akan menikah dengan lelaki asing itu.

Ia melirik arloji Cartier berlapis platina dan bertatah berlian di pergelangan tangan kirinya.

"Aku cabut dulu. Harus buru-buru ke bandara, say. Takut nanti macet."

Evelyn memeluknya erat.

"Titi deje, beib. Salam buat keluarga besar lu dan selamat berbahagia buat Runi dan suaminya."

Rosa bergegas keluar sambil melambaikan tangan kepada para trader yang masih memelototi monitor di meja masing-masing dan juga pada Raja, manajer mereka, yang berdiri di depan salah satu big screen yang menampilkan data perdagangan dunia hari itu.


***

Setelah mengunci pintu-pintu seluruh ruangan, Malik menuju lift yang akan membawanya turun dari lantai 24. Di dalam lift sudah ada Raja yang menahan pintu lift untuknya.

"Permisi, pak," sapa Malik sopan.

"Long weekend nggak pulang?" tanya Raja basa-basi.

"Tidak, pak," jawab Malik seperlunya. Selanjutnya mereka diam hanyut dalam lamunan masing-masing.

Malik bergegas ke Warung Tegal bu Parti yang terletak di jalan pintas belakang gedung berlantai 54 yang jadi langganan hampir semua karyawan di gedung tersebut. 

Bu Parti sedang merapikan etalase kayu. Selepas waktu makan siang, hanya sedikit  pengunjung yang duduk di warungnya.

"Bu Parti, tadi mbak Rosa nitip uang buat bayar kasbon." Malik mengeluarkan dompetnya.

"Nopekgo semuanya," jawab bu Parti dengan logat Tegal yang kental.

Malik mengeluarkan tiga lembar uang seratus ribu yang diterima bu Parti sambil senyum memamerkan deretan gigi emasnya yang berkilauan.

Setelah menerima uang kembalian, Malik menuju mal di seberang jalan utama. Ia membeli selembar peta dunia dan spidol merah di toko buku, tiga bungkus roti tawar putih dan dua botol besar air mineral di supermarket dalam mal.

Dari situ, dengan menumpang angkot ia menuju pasar burung. Setelah berputar-putar akhirnya ia menemukan apa yang dicarinya. Ketika keluar, di pundaknya sudah bertengger tas kiso berisi seekor ayam cemani hitam legam bermata merah. 

Tak jauh sepelemparan batu, terdapat pasar tradisional, tujuan terakhir Malik guna mendapatkan beberapa barang yang dibutuhkannya, sebelum pulang ke pemondokannya.

***


Selama tiga hari tiga malam, Malik mendekam di kamarnya. Jendela-jendela tertutup rapat seakan mengurung ruh jahat.

Pondokan itu sepi. Semua penghuninya pada mudik atau ke luar kota. Kalau tidak, pasti mereka akan mencium aroma kemenyan menyebar dari kamar Malik. Belum lagi suara geraman berupa mantera-mantera dalam bahasa yang terlupakan tak putus-putus bergema naik turun. 

Dan di hari ketiga, Minggu malam, terdengar kotek ayam yang berganti ngorok karena lehernya disembelih. Berakhir dengan sunyi yang mencekam. Dari jauh terdengar lolongan anjing berpanjang-panjang mengancam rembulan.

***

Keesokan harinya Malik menelpon kantor yang diterima oleh Virya, resepsionis. 

"Mbak Virya, saya minta ijin tidak masuk hari ini. Saya merasa kurang sehat...." suara Malik terdengar lemah tak bertenaga.

"Nanti mbak sampaikan ke pak Raja. Cepat sembuh ya." 

Virya menyampaikan kabar itu dan kabar lainnya kepada Raja yang sedang memandang salah satu big screen yang sedang menampilkan sesi pertama TOCOM pagi hari. 

"Apaaa? Serius?" tanya Raja tak percaya. Ia terhuyung sempoyongan, segera meraih kursi terdekat. 

Raja meraih remote tv dan mengganti saluran salah satu big screen tv di dinding ke saluran berita. Di layar besar lain terbaca harga Red Bean mencapai limit up pada sesi pembukaan.

***

Keesokan harinya Malik telat masuk kantor. Tabrakan antara metromini dan kopaja membuatnya dua jam terlambat.

Alangkah herannya Malik ketika menemukan suasana trading floor yang muram. Para trader berkerumun di depan tv layar lebar. Aneh. Semuanya menyiarkan berita. Biasanya selama sesi perdagangan, hanya pergerakan harga komoditi, saham atau mata uang yang muncul di layar. 

Dalam hati ia bertanya-tanya, apakah usahanya selama tiga hari kemarin sia-sia belaka? Diliriknya monitor di meja Evelyn. Harga kacang merah kembali mencapai limit up di hari kedua. Ya, Malik paham seluk beluk pasar komoditi, meskipun statusnya hanya sebagai office boy.

Ia tak menemukan bayang-bayang Rosa di antara kerumunan trader. Apakah yang ia lihat butiran air mata mengalir di pipi Evelyn?

Matanya mendadak terbeliak lebar. Layar tv dipenuhi gambar peta yang sangat dikenalnya, karena selama 3 hari 3 malam matanya tak terpejam menatap gambar wilayah tersebut. Sebagian peta itu tertutup persegi empat berupa inset pasfoto wajah seorang gadis.

"....seorang warga negara Indonesia ikut menjadi korban bencana badai taifun yang melanda utara Hokaido dan Honshu, Minggu kemarin. Korban yang bernama Rosa Lasang, usia 26 tahun, tewas ketika taksi yang ditumpanginya tertimpa pohon yang diterbangkan badai dengan kecepatan 160 kilometer per jam. Korban dalam perjalanan menuju hotel setelah menghadiri pernikahan saudaranya, Runi Labuan yang menikah dengan seorang pria Jepang--"

Pandangan Malik mengabur. Tubuhnya jatuh tak bersuara diredam karpet tebal dan musik ending berita televisi, ketika mendadak jantungnya berhenti memompakan darah untuk selamanya.


Minggu, Juli 26, 2015

Gurita! Gurita!


Matahari belum membakar timur langit di pagi itu, namun orang-orang telah bersiap-siap melakukan aktivitas rutin mereka dengan perasaan mendongkol. Bagaimana tidak? Dari jam dua dini hari listrik ibukota padam, air ledeng mampat, jaringan telpon seluler semua operator hilang, begitu juga koneksi internet dan telepon saluran darat, baik melalui kabel tembaga atau serat optik. Seakan kembali ke jaman kegelapan bin jahiliyah. Akibatnya yang hendak berangkat kerja hanya mengandalkan semprotan parfum dan deodoran, mencuci muka sekadarnya dan menggosok gigi dengan air sisa dispenser. Masyarakat kota mana yang rumahnya masih ada sumur lengkap dengan timba?

Dan tepat pukul setengah enam pagi listrik kembali menyala. Seperti digerakkan tenaga gaib, televisi-televisi hidup dengan sendirinya. Semua saluran menampilkan tayangan yang sama, sosok gurita raksasa menatap kamera dengan sepuluh corong mikrofon di depan mulutnya yang mirip paruh burung kakak tua. Monster raksasa, sehingga ubun-ubunnya menyentuh langit-langit auditorium studio yang biasa dipakai untuk gelar acara anugerah terbaik pura-pura.Ke delapan tentakelnya melambai-lambai seakan mengancam dunia. Orang-orang terpana, ketika sang Gurita Raksasa berbicara:

"Selamat pagi manusia pemirsa. Saya adalah Ratu Gurita Lautan Hindia. Saat ini kami, para gurita, telah mengambil alih kota kalian."

Salah satu tentakelnya menggaruk jidatnya yang licin. Terdengar dehemannya yang mirip suara desah angin.

"Kalian adalah makhluk serakah. Makanan kami kalian ambil sesukanya. Ekosistem kami kalian racuni. Anak-anak kami kalian pukat dan kalian jadikan dendeng atau abon!" gelegar amarah Ratu Gurita yang membuat televisi layar tabung meledak. Hanya televisi LCD dan videotron di jalan-jalan utama yang masih bertahan.

"Untuk itu kami mengambil tindakan sebagai peringatan! Lihatlah ke atas gedung, atap rumah, puncak monumen atau tower komunikasi!".

Di layar televisi muncul gambar beberapa gedung dan menara yang diambil dengan longshot, medium shot maupun nyaris close up berganti-ganti. Di puncaknya masing-masing bertengger belasan bahkan puluhan gurita yang nyaris sama besarnya dengan sang Ratu.

Orang-orang berhamburan ke luar rumah. Penghuni griya tawang berdiri di balkon sedangkan penyewa rusunawa mengintip dari kaca jendela. Seluruh atap dan tempat-tempat tinggi tak bersisa diduduki para gurita dengan tentakelnya yang meliuk-liuk seperti sedang menarikan Serampang Dua Belas. Pemandangan yang mestinya lucu dan indah, tapi nyatanya orang-orang tercekam.

Dari televisi terdengar suara Sang Ratu Gurita membahana:

"INI HANYA SEBAGAI PERINGATAN!"

Dan orang-orang menjerit. Situasi menjadi kacau balau. Hiruk pikuk dengan isak tangis dan lolong panjang bercampur sumpah serapah. Chaos. Orang-orang saling tabrak berlarian menyelamatkan diri. Namun takdir tak bisa dielak....

***



Hari itu dikenang dalam sejarah sebagai HARI SERANGAN GURITA.
Selama sebulan penuh, masyarakat ibukota bekerja keras mengembalikan warna kota.

Dan media-media seluruh dunia memberitakan peristiwa itu lengkap dengan citra satelit tampakan seluruh kota dari langit sebagai noda hitam tertutup tinta.....



Jumat, Januari 21, 2011

Bersemi Menjelang Senja


'Kamu yakin?', sang wanita bertanya.

Pria itu memandang mata yang berbinar di hadapannya. Mencoba menangkap setitik ragu, jika ada.
Tapi mata itu adalah lautan teduh yang menelan seluruh dukanya. Duka yang dibenamkan dalam-dalam dan telah dicoba untuk dilupakan. Tapi kini lenyap begitu saja dalam samudera tenang yang menatapnya seakan membisik lembut: 'menyelam lah ke dasarku.....'

Ia menghela nafas perlahan. Apakah ia yakin?

Perasaan ini bukanlah hadir untuk membunuh sepi.

Tidak!

Setelah perjuangan usai, sepi bukanlah temannya lagi. Perasaan ini otentik, bukan artifisial.

Tapi apa yang harus dilakukan untuk meyakinkan sebuah hati yang juga pernah terluka?

Ya... ia percaya dan yakin.
Perasaannya kepada wanita itu bukanlah karena pelarian, tidak pula sebagai pelampiasan. Perasaan yang ada karena wanita itu sendiri, yang kini berdiri dengan anggun di sisinya.
Keberadaannya yang singkat telah memberikan kehangatan bagi hatinya yang dingin membeku. Gelak tawanya menjadi oase subur bagi jiwanya yang kerontang. Dan tatapan matanya..... kerling yang membasuh luka.

Dan ia tahu sang wanita menandai keyakinannya, karena pertanyaan berlanjut:

'Apakah ia setuju?'

Tanpa ragu-ragu ia menjawab:

'Ya... ia setuju.'

Mataharinya, rembulannya, telah menyetujui dari awal mula. Tentu saja ia takkan meminta tanpa approval dari satu-satunya buah hati yang menjadi alasan ia tetap tegar setelah dihantam badai. Persetujuan yang tanpa paksaan, malahan disambut dengan suka cita.

Ia telah bersumpah takkan mengeluh sebagai pelindung tunggal cahaya hidupnya. Jika ijin tak diperoleh, sekuat apapun perasaannya terhadap wanita itu, solitaire akan menjadi permainannya abadi. Kebahagiaan buah hatinya adalah mutlak.

Dan kata setuju diucapkan tanpa keraguan. Hal yang mestinya tak perlu ditakutkan lagi.

Dalam pertemuan singkat mereka bertiga, ia bisa merasakan hangatnya pertalian antara buah hatinya dengan wanita itu, sehingga seharusnya kebahagiaan mereka menjadi sempurna.

Tapi apa yang harus dilakukan untuk meyakinkan sebuah hati yang juga pernah terluka?

Angin berhembus membawa aroma asin ombak dari tepi pantai. Meniup lembut daun mahoni yang melambai malas menggayut di ranting-ranting yang tertidur pulas.

Sang wanita tersenyum. Senyum tanpa suara yang terdengar di telinganya bagai orkestra filharmoni memainkan seluruh opus Frédéric François Chopin tanpa cacat.

'Bagaimana jika kita mencoba dulu sebelum yakin?', tiba-tiba sang wanita berujar lirih.

Adakah yang salah dengan pendengarannya? Ini jauh melampaui pengharapan, menembus awan dan menggapai bintang di galaksi terjauh! Sekecil apapun kesempatan akan diraihnya, dan pertanyaan sekaligus jawaban ini mungkin takkan datang dua kali!

'Oh, okay....', jawabnya. Mudah-mudahan wanita itu tak menangkap getar gemuruh jiwanya dalam jawaban sesingkat itu.

Langit semburat jingga berpadu jutaan warna menjelang senja, bagaikan foto polaroid yang diplintir sehingga menghasilkan lukisan abstrak adikarya.

'Benih-benih itu telah bersemi... tinggal dirawat dan dijaga,' selintas asa dalam relung dadanya.

Perjuangan baru sudah dimulai.

Ia berbisik lirih -sangat lirih- sehingga tak terdengar oleh sang wanita:

'Janjiku untuk membahagiakanmu akan dibuktikan oleh waktu....'

Dan matahari memburu ke balik gunung, meninggalkan rona chromakey di langit senja. Dan burung-burung terbang melayang berputar-putar dimabuk pesona cinta....





Kutaradja, 22 Januari 2011